Semua mata melihat kagum
Semua tangan menjabat tanganmu dengan keras
Semua mulut membicarakanmu
Semua telinga mendengarkan semua ucapanmu dengan seksama
Semua rasa kagum tertuju kepadamu
Tetapi…
Ia tidak !
Ia melihatmu rendah
Dia tak mau mendengarkan suaramu
Dia merasa kebenciannya kepadamu t’lah memuncak
Dan tangan besarnya
Tak ragu-ragu menampar pipimu
Hingga semerah darah
Kenapa ?
Ini semua karena lidah tak berdosamu
Ia t’lah sengaja mengucapkan rahasianya
Rahasia yang selalu ia tutupi
Sekarang ia bukan lagi teman baikmu
Bukan lagi sahabat sejati yang kau banggakan
Melainkan…
Seorang musuh terbesarmu
Yang selalu siap menikammu
Seperti kala kau menikamnya dahulu
Monday, August 16, 2004
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment